Rabu, 30 November 2016

ETNOSENTRISME

ETNOSENTRISME


·         PENGERTIAN ETNOSENTRISME
Etnosentrisme adalah penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri. Orang-orang etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri, khususnya bila berkaitan dengan Bahasa, perilaku, kebiasaan, dan agama Perbedaan dan pembagian etnis ini mendefinisikan kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa. Etnosentrisme mungkin tampak atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan alamiah dari psikologi manusia, etnosentrisme memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.

Adanya perbedaan budaya dari masing-masing daerah bahkan negara. Perbedaan cara pandang
dan pendapat terhadap budaya yang dimiliki atau diakui dapat menunjukan perilaku etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat dalam beberapa bahasa yaitu arti kata “Cina” dalam bahsa Cina sebetulnya bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo, Kiowa dan Inuit menyebut diri mereka sendiri sebagai “The people”.

Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.
Contoh adanya perilaku etnosentrisme, misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya untuk memakan daging kuda mentah. Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari berbagai kalangan. Ada yang berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah hal yang biadab dan tidak normal. Tetapi mungkin saja ada yang memiliki pandangan bahwa memakan daging kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding dengan meletakkan orang tua di panti jompo. Dari contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya yang lain.

Gejala etnosentrisme muncul dan menyebar di daerah-daerah di Indonesia dalam berbagai bentuk. Manifestasi masalah etnosentrisme dalam beraneka bentuk menunjukkan kepada kita bahwa masalah etnosentrisme begitu kompleks. Untuk mempermudah kita memetakan fenomena etnosentrisme tersebut, penulis mencoba mengelompokkan masalah-masalah tersebut dalam beberapa jenis masalah.

·         KARAKTERISTIK ETNOSENTRISME
Menurut Larry terdapat tiga tingkatan dalam etnosentrisme :
o   Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling tidak bagi Anda, budaya Anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alami dan kepercayaan Anda berasal dari budaya asli Anda
o   Negatif, Memandang dengan sebelah mata, seakan akan budaya anda yang paling benar dan budaya lain salah
o   Sangat negatif, bagi Anda tidak cukup hanya menganggap budaya Anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, Anda juga menganggap budaya Anda sebagai yang paling berkuasa dan Anda percaya bahwa nilai dan kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang lain

Etnosentrisme semuanya terletak pada identitas sosial yang mendasar: kami. Sesaat sesudah orang-orang menciptakan kategori yang disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang lain sebagai “bukan kami”. Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu menit dalam laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya (1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di Inggris. Tajfel menunjukkan kepada anak-anak lelaki ini berbagai potongan gambar, masing-masing memiliki sejumlah titik yang beraneka ragam dan meminta anak-anak ini untuk menebak beberapa jumlah semua titik dalam potongan gambar tersebut. Anak-anak ini dengan acak dikelompokkan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators” dan mereka kemudian diminta untuk mengerjakan tugas lainnya. Dalam tahap ini, mereka diberikan kesempatan menilai anak-anak lain yang diidentifikasikan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators”. Walaupun setiap anak bekerja sendiri dalam ruangnya masing-masing, setiap anak memberikan nilai yang lebih tinggi pada anak-anak yang dianggap mirip dengannya, entah itu seorang yang “overestimators” ataupun “underestimators”. Ketika anak-anak ini keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai, “Termasuk yang manakah dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak gembira atau cemooh dari anak-anak lainnya.

Identitas sosial kita-mereka diperkuat ketika kedua kelompok berkompetisi satu dengan yang lainnya. Bertahun-tahun yang lalu. Muzafer Sherif dan rekan-rekannya menggunakan sebuah situasi alamiah, yaitu lokasi perkemahan pramuka yang dikenal sebagai Robbers Cave, untuk menunjukkan pengaruh kompetisi pada perilaku kasar dan konflik antar kelompok (Sherif, 1958, Sherif dkk 1961). Sherif menempatkan secara acak anak-anak usia 11 dan 12 tahun ke dalam dua kelompok, kelompok Elang dan kelompok Ular. Untuk membangun perasaan sebagai sebuah kelompok, serta membentuk identitas dalam kelompok dan semangat tim, setiap kelompok di minta bekerja sama dalam kegiatan seperti membuat jembatan dari tali-temali dan membangun sebuah papan untuk menyelam. Sherif kemudian menempatkan kelompok Elang dan Ular dalam sebuah kompetisi untuk mendapatkan hadiah. Selama permainan bola, baseball, dan tug-of-war yang sengit, anak-anak ini kemudian menciptakan atmosfer kompetisi yang segera menyelimuti lapangan permainan. Mereka mulai masuk ke daerah lawan dan mengacak-acak tempat penympanan mereka. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat kelompok ular dan kelompok Elang menjadi orang-orang yang agresif terhadap kelompok lawan, seperti halnya dua geng yang berkelahi untuk mendapatkan suatu wilayah, atau dua bangsa yang bertarung untuk memperoleh dominasi. Agresivitas dan perilaku kasar ini berlanjut ketika mereka hanya duduk dan menonton film bersama.

Kemudian Sherif memutuskan untuk menghilangkan pertikaian yang dia ciptakan dan membuat perdamaian antara kedua kelompok. Dia dan para rekannya membuat sejumlah rangkaian situasi di mana kedua kelompok perlu bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan-menggabungkan seluruh sumber daya untuk dapat menonton film yang ingin mereka lihat, sebagai contohnya, atau dengan menarik sebuah truk milik staf hingga ke bukit tempat perkemahan. Kebijakan untuk saling bergantung dalam mencapai tujuan bersama sangat sukses dalam mengurangi “etnosentrisme”, tingkat kompetisi, dan perilaku kasar mereka; masing-masing anak kemudian menjadi teman dengan anak-anak yang semula adalah “musuh mereka”. Saling tergantungan memiliki dampak seruupa pada orang dewasa dan kelompoknya. Alasannya tampaknya karena kerja sama menyebabkan seseorang berpikir bahwa mereka sendiri merupakan anggota dari suatu kelompok besar dan bukan lagi dua kelompok yang saling bertentangan, “kami” dan “mereka”.
Dari bacaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik lain yang terdapat pada etnosentrisme (dalam wede carole, dkk. 2008) antara lain sebagai berikut:
o   Etnosentris terletak pada identitas sosial yang mendasar. Hal ini mengarah pada kata “kami”, setelah mengenal kata tersebut, para etnosentris mempresepsikan semua orang lain “bukan kami”
o   Solidaritas dalam kelompok dapat tercipta lebih cepat, etnosentris menyukai orang lain yang hampir sama dengan dirinya dan budayanya
o   Menciptakan “kerja sama” bagi orang yang berpandangan etnosentris dapat merubah makna kata “kami” dan “mereka”
o   Budaya yang mengadopsi perilaku/ sikap etnosentrisme dapat menciptakan permusuhan dengan cepat antara dua kelompok yang berbeda yaitu melalui adanya perebutan dalam hal tertentu (identitas sosial menjadi lebbih kuat).
·         TERJADINYA ETNOSENTRISME
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”

Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang

·         LANGKAH MENGATASI MASALAH ETNOSENTRISME
o   Memberikan Toleransi yang tinggi terhadap kebudayaan yang berbeda dengan  kebudayaan kita
o   Menghargai suku,agama,dan ras yang berbeda
o   Jika permasalahnnya karena miss communication bisa dengan mengadakan mediasi antar kepala suku atau kepala daerah 
o    Pemerintah harus lebih telaten dalam mengurusi masalah-masalah yang ada di sudut-sudut Negara, jangan hanya terpaku pada ibu kota saja
o   Pemerintah harus lebih peka dan adil dalam pembuatan peraturan-peraturan agar tidak ada yang merasa di anak tirikan dan merasa tidak di perdulikan oleh pemerintah.
o   Perbaikan pada manajemen konflik agar mampu mengurangi konflik yang terjadi antara kelompok minoritas dengan minoritas maupun antara kelompok minoritas dengan mayoritas. Misalnya di adakan manajemen konflik pada suku dayak dan suku Madura yang merupakan kelompok mayoritas, sehingga suku dayak tidak merasa di diskriminasikan.
o   Diadakannya pendidikan multikultural sebagai pengembangan pola positif masyarakat pada masyarakat sampit dan Madura
o   Mengenali dan mencintai budaya lain dengan pengenalan budaya seperti misalnya suku Madura di pertunjukan tari-tarian suku dayak agar kedua suku tersebut bisa memiliki simpati satu sama lain.

Senin, 28 November 2016

MASYARAKAT DESA DAN KOTA

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Pada dasarnya masyarakat kota adalah berawal dari pedesaan,yang berkembang dan maju akibat pertumbuan roda aspek kehidupan yang berada di daerah tersebut.  Entah dari segi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dll.  Dan masyarakat yang tinggal di suatu daerah tersebut juga mulai melupakan kebiasaan lamanya sebagai masyarakat pedesaan, yang religious, gotong royong dan menjunjung tinggi norma yang ada di daerah tersebut.,

Dan biasanya masyarakat desa cenderung lebih mementingkan kenyamanan bersama dari pada kenyamanan pribadi layaknya masyarakat perkotaan.  Sedangkan cara beadaptasi mereka sangat sederhana, dengan menjunjung tinggi sikap kekeluargaan dan gotong royong antara sesama, serta yang paling menarik adalah sikap sopan santun yang kerap digunakan masyarakat pedesaan.
  • Pengertian Masyarakkat
Dalam arti sempit, masyarakat berasal dari bahasa arab “syaraka” yang artinya ikut serta atau berpartisipasi
Masyarakat adalah kelompok individu yang saling melakukan interaksi dalam kehidupan mereka, terutama melakukan interaksi social yang berkembang dalam cangkupan wilayah tertentu yang cukup luas dan menghasilkan kebudayaan.
Dalam arti lain,  masyarakat adalah kesatuan golongan yang berhubungan dan mempunyai kepentingan yang sama.
  • Masyarakat Desa
    • Pengertian Masyarakat pedesaan
Menurut bintaro, Desa atau kota merupakan suatu hasil perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisografis, sosial, ekonomi, politk dan kultural yang terdapat pada suatu daerah serta memiliki hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daeah lain.
Menurut Sutardjo kartodikusumo, Desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejulmah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang Kepala Desa) atau desa merupakan kelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan

Masyarakat desa adalah sekelompok individu yang saling berinteraksi di suatu daerah yang merupakan suatu hasil perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur sosial, ekonomi, politik dan budaya.
Secara awam masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional dari masyarakat primitif (sederhana). Namun pandangan tersebut sebetulnya kurang tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan, wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa. Sedangkan masyarakat tradisional adalah masyarakat. yang menguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih sederhana dan belum kompleks. Memang tidak dapat dipungkiri masyarakat desa dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya.

  • Ciri Masyarakat Desa
    • Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuan terhadap kebiasaan
    • Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
    • warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya. Mereka bergotong royong melakukan hal tanpa ada unsur uang/materi
    • Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
    • Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
    • Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya
    • Masyarakat pedesaan dikenal sangat religious. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya
    • Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota

  • Masyarakat Kota
    • Pengertian Kota
Menurut Wirth, Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.

Menurut Dwigth Sanderson : Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.

Menurut Max Weber, Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.

Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.

Masyarakat perkotaan sebetulnya tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat desa karena antara desa dengan kota ada hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa kekota. Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat urban dari berbagai asal/desa yang bersifat heterogen dan majemuk karen terdiri dari berbagai jenis pekerjaan/keahlian dan datang dari berbagai ras, etnis, dan agama.

  • Ciri masyarakat Kota
    • Kehidupan keagamaan berkurang dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
    • Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu
    • Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
    • Kemungkinan untuk mendapat pekerjaan biasanya lebih banyak diperoleh jika di kota
    • Interaksi yang lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
    • Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
    • Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh

  • Hubungan Masyarakat Desa dan Kota
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan terdapat hubungan uang erat, bersifat ketergantungan, karena saling membutuhkan
Kota tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan, desa juga merupakan tenaga kasar pada jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yg juga diperlukan oleh orang desa, kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang-bidang jasa yg dibutuhkan oleh orang desa.

Minggu, 27 November 2016

DISKRIMINASI

DISKRIMINASI

·         PENGERTIAN DISKRIMINASI
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain.
Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik sukuantargolongankelaminrasagama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.

Sedangkan Menurut Undang – Undang No.39 Tahun 1999, Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung maupun tak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengangguran, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya. Perlakuan diskriminasi sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 beserta amandemennya.

Diskriminasi sering kali terjadi diawali dengan prasangka. Dengan prasangka, kita membuat perbedaan antara kita dengan orang lain. Pembedaan ini terjadi karena kita adalah makhluk social yang secara alami ingin berkumpul dengan orang yang memiliki kemiripan dengan kita. Prasangka seringkali didasari pada ketidakpahaman, ketidakpedulian pada kelompok di luar kelompoknya atau ketakutan atas perbedaa.

·         JENIS DISKRIMINASI
o   Diskriminasi berdasarkan suku, etnis, ras dan agama.
o   Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan gender
o   Diskriminasi terhadap penyandang cacat
o   Diskriminasi terhadap penderita HIV/ AIDS
o   Diskriminasi karena kasta sosial

·         TIPE – TIPE DISKRIMINASI
o   Diskriminasi langsung,
Terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama.
o   Diskriminasi tidak langsung,
Terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.

·         SEBAB – SEBAB DISKRIMINASI
o   Mekanisme pertahanan psikologi (projection)
Seseorang memindahkan kepada orang lain cirri-ciri yang tidak disukai tentang dirinya kepada orang lain
o   Kekecewaan
Seseorang yang merasa tersakiti dan kecewa akan dirinya yang diperlakukan tidak baik, akan berdampak pada orang lain yang dilampiaskannya
o   Mengalami rasa tidak selamat dan rendah diri
Jika seseorang merasa terancm dan direndahkan, biasanya orang tersebut merendahkan orang lain atau kelompok lain agar dirinya bisa selamat 
o   Sejarah 
Sejarah terkadang juka menjadi penyebab dikriminasi, masa lalu yang di lingkupi dengan dendam dan penyesalan akan membuat seseorang menjadi terbawa suasana
o   Persainagan dan eksploitasi 
Masyarakat rela mengeluarkan apa saja untuk menjadi yang terbaik, apapun dihalalkan untuk memnangkan persaingan. Kekayaan, kemewahan dan kekuasaan adalah tujuan
o   Corak sosialisasi 
       Diskriminasi juga adalah fenomena yang dipelajari dan diturunkan dari satu generasi kepada generasi yang lain melalui proses sosialisasi.seterusnya terbentuk suatu pandangan steorotib tentang peranan sebuah bangsa dengan yang lain dalam masyarakat. Yaitu berkenaan dengan kelakuan, cara kehidupan dan sebagainya. Melalui pandangan steorotib ini kanak-kanak belajar meyakini sikap prejudis juga dipelajari melalui proses yang sama.


Referensi : 
http://knowledgeisfreee.blogspot.co.id/2016/03/makalah-pengertian-jenis-jenis.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Diskriminasi

WARGA NEGARA DAN NEGARA

PUISI
TEMA       : WARGA NEGARA DAN NEGARA
JUDUL      : PEMIMPIN NEGARA
KARYA    : MUHAMMAD RIZKY PRIHANDINI NUR


Negara  ini adalah negara yang indah
Tumbuh subur dan Kaya raya
Suku, Agama dan Budaya menjadi pemersatu
Jajaran  pulau menghampar
Dikelilingi lautan dan samudra biru
yang menemani indahnya negara ini
Inilah Indonesia

Sudahkah  kita  berfikir
Bahwa ada kewajiban yang menunggu
Negara ini telah merdeka
Tapi apakah masyarakat sejahtera
Jangan sampai negara ini tenggelam
Oleh asa yang membungkam

Terdiam seraya merenung
Memikirkan apa yang terbaik
Untuk mewujudkan satu keinginan
Kita adalah warga
Yang pantang menyerah, belajar, dan bekerja
Tidak kenal lelah walau rintangan menunggu
Membela tanah air mempertahankan NKRI
Menjadi pemimpin itu tujuan
Untuk mewujudkan Keadilan dan kesejahteraaan

Kamis, 17 November 2016

PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT



·         PELAPISAN MASYARAKAT
o   PENGERTIAN
Kata stratification berasal dari kata stratum, jamaknya strata yang berarti lapisan. Definis lain dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Dalam hal ini bisa kita lihat dari adanya kelas atau lapisan yang ada di masyarakat.  Mulai dari lapisan yang tinggi dan diikuti dengan lapisan yang remdah.  tiap – tiap lapisan tersebut disebut dengan strata sosial.  Pelapian sosial dalam masyarakat , pasti akan selalu ada.  Dasar pembedaan itu antara lain, kekayaan, kekuasaan/ wewenang, nilai – nilai sosial, dll.

o   TERJADINYA PELAPISAN SOSIAL
§  Terjadi dengan sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Orang – orang menduduki lapisan tertentu, dibentuk bukan berdasarkan karna unsur kesengajaan, melainkan karena sudah ada sebelumnya yang terjadi dengan sendirinya atau alami.  Dengan hal ini, maka muncul lapisan yang terjadi dengan sendirinya dan bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat dimana sistem itu berlaku.
§  Terjadi dengan sengaja
Sistem pelapisan ini terbentuk dari sebuah kesengajaan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sistem ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara sengaja, mengandung 2 sistem, yaitu:

1.       Sistem Fungsional, merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.
2.       Sistem Skalar, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke atas ( Vertikal ).


o   PERBEDAAN PELAPISAN SOSIAL
§  Lapisan sosial tertutup
Pada lapisan ini, apapun tidak akan merubah kekuasaan, wewenang, status sosial. Tidak akan mempengaruhi lapisan atas ataupun lapisan dibawahnya.  Biasanya pada lapisan sosial tertutup, anggota masyarakat akan menerima atau tidak bisa masuk jika berdasarkan keturunan saja, lain dari itu tidak.  . Sistem pelapisan seperti ini biasa ditemui di India, dan Afrika Selatan, dimana mereka menganut politik apartheid atau perbedaan warna kulit yang disahkan melalui undang-undang.

§  Lapisan sosial terbuka
Berbeda dengan lapisan sosial tertutup, pada lapisan sosial terbuka semua golongan atau lapisan masyarakat bisa menempati lapisan sosial yang ada dibawahnya atau diatasnya. Seseorang bisa saja menempati suatu jabatan atau kewenagan tertentu dengan kemampuannya.  Dan seorang yang berada di lapisan atas bisa saja jatuh ke lapisan bawah karena dia tidak bisa mempertahankan kemampuannya karena banyak faktor yang mempengaruhi. Masyarakat akan semakin bersaing untuk mendapatkan apa yang diinginkan.  Sisitem ini dikatakan baik diterapkan pada masyarakat karena bersifat transparan dan terbuka.

o   TEORI PELAPISAN SOSIAL
§  Kelas atas (upper class).
§  Kelas bawah (lower class).
§  Kelas Menengah (middle class).
§  Kelas Menengah kebawah (lower middle class).
Adapun beberapa teori tentang pelapsan sosial masyarakat menurut para ahli :

§  Aristoteles mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap Negara terdapat tiga unsure,   yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang   berada di tengah-tengahnya.

§  Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA. menyatakan bahwa  selama di dalam masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai.

§  Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap  waktu yaitu golongan Elite dan golongan Non Elite. Menurut dia pangkal dari pada perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda.

§  Gaotano Mosoa dalam “The Ruling Class” menyatakan bahwa di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang kurang berkembang, sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas pertama (jumlahnya selalu sedikit) dan kelas kedua (jumlahnya lebih banyak).

§  Karl Mark menjelaskan terdapat dua macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.

o   KRITERIA UNTUK MENNGGOLANGKAN PELAPISAN SOSIAL
§  Ukuran kekayaan, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak, ia akan menempati pelapisan di atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil pribadinya, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, kebiasaan atau cara berbelanja dan seterusnya.

§  Ukuran kekuasaan, barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.


§  Ukuran kehormatan, orang yang disegani dan dihormati akan mendapat tempat atas dalam sistem pelapisan sosial. Ukuran semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orangtua atau orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

§  Ukuran ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial didalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

·         KESAMAAN DERAJAT

o   PENGERTIAN
Kesamaan derajat adalah suatu sifat yang menghubungankan antara manusia dengan lingkungan masyarakat umumnya timbal balik, Seorang yang menjadi anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun negeara.  Hak dan kewajiban diatur dalam Undang – undang.  Undang-undang itu berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali dalam arti semua orang memiliki kesamaan derajat.  Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai faktor kehidupan yang dikeal juga sebagai Hak Asasi Manusia.

Pelapisan sosial dan kesamaan derajat mempunyai hubungan, kedua hal ini mempunayi keterkaitan satu sama lain. Pelapisan soasial berarti pembedaan antar kelas-kelas dalam masyarakat yaitu antara kelas tinggi dan kelas rendah, sedangkan Kesamaan derajat adalah suatu yang membuat bagaimana semua masyarakat ada dalam kelas yang sama, tiada perbedaan kekuasaan dan memiliki hak yang sama sebagai warga negara, sehingga tidak ada dinding pembatas antara kalangan atas dan kalangan bawah

o   HUKUM YANG MENGATUR
§  PASAL 27
·         Ayat 1 , berisi mengenai kewajiban dasar dan hak asasi yang dimiliki warga negara yaitu menjunjung tinggi hukum dan pemenrintahan
·         Ayat 2, berisi mengenai hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
§  PASAL 28, ditetapkan bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, menyampaikan pikiran lisan dan tulisan.
§  PASAL 29, kebebasan memeluk agama bagi penduduk yang dijamin oleh negara
§  PASAL 31 ayat 1 dan 2, yang mengatur hak asasi mengenai pengajaran
·         ELITE DAN MASSA
o   ELITE
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi II – 1995) menyebut elite adalah “orang orang terbaik atau pilihan di suatu kelompok,” dan “kelompok kecil orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawam, cendekiawan dan lain-lain)”.

Elite merujuk pada sekelompok orang yang ditengah – tengah masyarakat, menempati kedudukan tertinggi atau dalam kata lain sekelompok orang terkemuka di bidang – bidang tertentu khusunya golongan kecil yang memegang kekuasaan

Pembedaan elite dalam memegang strategi secara garis besar adalah sebagai berikut :
§  Elite politik (elite yang berkuasa dalam mencapai tujuan).
§  Elite ekonomi, militer, diplomatik dan cendekiawan (mereka yang berkuasa      
atau mempunyai pengaruh dalam bidang itu)
§  Elite agama, filsuf, pendidik, dan pemuka masyarakat
§  Elite yang dapat memberikan kebutuhan psikologis, seperti : artis, penulis,
tokoh film, olahragawan dan tokoh hiburan dan sebagainya

o   MASSA
§  PENGERTIAN
Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai keramaian, tapi yang secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain.
Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku massal sepertinya mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai diberitakan dalam pers, atau mereka yang berperanserta dalam suatu migrasi dalam arti luas.

§  CIRI – CIRI MASSA
Beberapa hal penting yang merupakan sebagian ciri-ciri yang membedakan di dalam massa :

·         Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakamuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai massa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti suatu proses peradilan tentang pembunuhan misalnya melalui pers.
·         Massa merupakan kelompok yang anonim, atau lebih tepat, tersusun dari  individu-individu yang anonim.

·         Sedikit sekali interaksi atau bertukar pengalaman antara anggota­anggotanya