ETNOSENTRISME
·
PENGERTIAN ETNOSENTRISME
Etnosentrisme adalah penilaian
terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri. Orang-orang
etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya
sendiri, khususnya bila berkaitan dengan Bahasa,
perilaku, kebiasaan, dan agama Perbedaan dan pembagian etnis ini mendefinisikan
kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa. Etnosentrisme
mungkin tampak atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan
alamiah dari psikologi manusia, etnosentrisme memiliki konotasi negatif di
dalam masyarakat.
Adanya perbedaan budaya dari masing-masing
daerah bahkan negara. Perbedaan cara pandang
dan pendapat terhadap budaya yang dimiliki
atau diakui dapat menunjukan perilaku etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat
dalam beberapa bahasa yaitu arti kata “Cina” dalam bahsa Cina sebetulnya
bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo, Kiowa dan Inuit menyebut diri mereka
sendiri sebagai “The people”.
Pandangan bahwa budaya lain dinilai
berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat
budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.
Contoh adanya perilaku etnosentrisme,
misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya untuk memakan daging kuda mentah.
Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari berbagai kalangan. Ada yang
berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah hal yang biadab dan tidak
normal. Tetapi mungkin saja ada yang memiliki pandangan bahwa memakan daging
kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding dengan meletakkan orang tua di
panti jompo. Dari contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010)
menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang
lebih unggul dibandingkan budaya yang lain.
Gejala etnosentrisme muncul dan menyebar di
daerah-daerah di Indonesia dalam berbagai bentuk. Manifestasi masalah
etnosentrisme dalam beraneka bentuk menunjukkan kepada kita bahwa masalah
etnosentrisme begitu kompleks. Untuk mempermudah kita memetakan fenomena
etnosentrisme tersebut, penulis mencoba mengelompokkan masalah-masalah tersebut
dalam beberapa jenis masalah.
·
KARAKTERISTIK ETNOSENTRISME
Menurut Larry terdapat tiga tingkatan dalam
etnosentrisme :
o
Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling
tidak bagi Anda, budaya Anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alami dan
kepercayaan Anda berasal dari budaya asli Anda
o
Negatif, Memandang dengan sebelah mata, seakan
akan budaya anda yang paling benar dan budaya lain salah
o
Sangat negatif, bagi Anda tidak cukup hanya
menganggap budaya Anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, Anda juga
menganggap budaya Anda sebagai yang paling berkuasa dan Anda percaya bahwa
nilai dan kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang lain
Etnosentrisme semuanya terletak pada
identitas sosial yang mendasar: kami. Sesaat sesudah orang-orang menciptakan
kategori yang disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang lain sebagai
“bukan kami”. Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu
menit dalam laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan
rekan-rekannya (1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di
Inggris. Tajfel menunjukkan kepada anak-anak lelaki ini berbagai potongan
gambar, masing-masing memiliki sejumlah titik yang beraneka ragam dan meminta
anak-anak ini untuk menebak beberapa jumlah semua titik dalam potongan gambar
tersebut. Anak-anak ini dengan acak dikelompokkan sebagai “overestimators”
ataupun “underestimators” dan mereka kemudian diminta untuk mengerjakan tugas
lainnya. Dalam tahap ini, mereka diberikan kesempatan menilai anak-anak lain
yang diidentifikasikan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators”.
Walaupun setiap anak bekerja sendiri dalam ruangnya masing-masing, setiap anak
memberikan nilai yang lebih tinggi pada anak-anak yang dianggap mirip
dengannya, entah itu seorang yang “overestimators” ataupun “underestimators”.
Ketika anak-anak ini keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai,
“Termasuk yang manakah dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak
gembira atau cemooh dari anak-anak lainnya.
Identitas sosial kita-mereka diperkuat
ketika kedua kelompok berkompetisi satu dengan yang lainnya. Bertahun-tahun
yang lalu. Muzafer Sherif dan rekan-rekannya menggunakan sebuah situasi
alamiah, yaitu lokasi perkemahan pramuka yang dikenal sebagai Robbers Cave,
untuk menunjukkan pengaruh kompetisi pada perilaku kasar dan konflik antar
kelompok (Sherif, 1958, Sherif dkk 1961). Sherif menempatkan secara acak
anak-anak usia 11 dan 12 tahun ke dalam dua kelompok, kelompok Elang dan
kelompok Ular. Untuk membangun perasaan sebagai sebuah kelompok, serta
membentuk identitas dalam kelompok dan semangat tim, setiap kelompok di minta
bekerja sama dalam kegiatan seperti membuat jembatan dari tali-temali dan
membangun sebuah papan untuk menyelam. Sherif kemudian menempatkan kelompok
Elang dan Ular dalam sebuah kompetisi untuk mendapatkan hadiah. Selama
permainan bola, baseball, dan tug-of-war yang sengit, anak-anak ini kemudian menciptakan
atmosfer kompetisi yang segera menyelimuti lapangan permainan. Mereka mulai
masuk ke daerah lawan dan mengacak-acak tempat penympanan mereka. Tidak butuh
waktu yang lama untuk membuat kelompok ular dan kelompok Elang menjadi
orang-orang yang agresif terhadap kelompok lawan, seperti halnya dua geng yang
berkelahi untuk mendapatkan suatu wilayah, atau dua bangsa yang bertarung untuk
memperoleh dominasi. Agresivitas dan perilaku kasar ini berlanjut ketika mereka
hanya duduk dan menonton film bersama.
Kemudian Sherif memutuskan untuk
menghilangkan pertikaian yang dia ciptakan dan membuat perdamaian antara kedua
kelompok. Dia dan para rekannya membuat sejumlah rangkaian situasi di mana
kedua kelompok perlu bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan-menggabungkan
seluruh sumber daya untuk dapat menonton film yang ingin mereka lihat, sebagai
contohnya, atau dengan menarik sebuah truk milik staf hingga ke bukit tempat
perkemahan. Kebijakan untuk saling bergantung dalam mencapai tujuan bersama
sangat sukses dalam mengurangi “etnosentrisme”, tingkat kompetisi, dan perilaku
kasar mereka; masing-masing anak kemudian menjadi teman dengan anak-anak yang
semula adalah “musuh mereka”. Saling tergantungan memiliki dampak seruupa pada
orang dewasa dan kelompoknya. Alasannya tampaknya karena kerja sama menyebabkan
seseorang berpikir bahwa mereka sendiri merupakan anggota dari suatu kelompok
besar dan bukan lagi dua kelompok yang saling bertentangan, “kami” dan
“mereka”.
Dari bacaan diatas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa karakteristik lain yang terdapat pada etnosentrisme (dalam
wede carole, dkk. 2008) antara lain sebagai berikut:
o
Etnosentris terletak pada identitas sosial yang
mendasar. Hal ini mengarah pada kata “kami”, setelah mengenal kata tersebut,
para etnosentris mempresepsikan semua orang lain “bukan kami”
o
Solidaritas dalam kelompok dapat tercipta lebih
cepat, etnosentris menyukai orang lain yang hampir sama dengan dirinya dan
budayanya
o
Menciptakan “kerja sama” bagi orang yang
berpandangan etnosentris dapat merubah makna kata “kami” dan “mereka”
o
Budaya yang mengadopsi perilaku/ sikap
etnosentrisme dapat menciptakan permusuhan dengan cepat antara dua kelompok
yang berbeda yaitu melalui adanya perebutan dalam hal tertentu (identitas
sosial menjadi lebbih kuat).
·
TERJADINYA ETNOSENTRISME
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing
budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan
lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan,
“Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu
kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan
kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian.
Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin
besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat
kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik,
sebagai yang paling bermoral.”
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita
sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi
kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang
terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat
mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri
sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu
masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan
etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian
dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan
kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan
erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme
berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The
Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris
cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik.
Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan
yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai
prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang
etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses
belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu
melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan
kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis
yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan
sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan
etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan
dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut
mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan
penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik.
Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan
yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga
kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan
politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat
diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar
belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang
·
LANGKAH MENGATASI MASALAH ETNOSENTRISME
o
Memberikan Toleransi yang tinggi terhadap
kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan kita
o
Menghargai suku,agama,dan ras yang berbeda
o
Jika permasalahnnya karena miss communication
bisa dengan mengadakan mediasi antar kepala suku atau kepala daerah
o
Pemerintah harus lebih telaten dalam
mengurusi masalah-masalah yang ada di sudut-sudut Negara, jangan hanya terpaku
pada ibu kota saja
o
Pemerintah harus lebih peka dan adil dalam
pembuatan peraturan-peraturan agar tidak ada yang merasa di anak tirikan dan
merasa tidak di perdulikan oleh pemerintah.
o
Perbaikan pada manajemen konflik agar mampu
mengurangi konflik yang terjadi antara kelompok minoritas dengan minoritas
maupun antara kelompok minoritas dengan mayoritas. Misalnya di adakan manajemen
konflik pada suku dayak dan suku Madura yang merupakan kelompok mayoritas,
sehingga suku dayak tidak merasa di diskriminasikan.
o
Diadakannya pendidikan multikultural sebagai
pengembangan pola positif masyarakat pada masyarakat sampit dan Madura
o
Mengenali dan mencintai budaya lain dengan
pengenalan budaya seperti misalnya suku Madura di pertunjukan tari-tarian suku
dayak agar kedua suku tersebut bisa memiliki simpati satu sama lain.
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Etnosentrisme