Rabu, 30 November 2016

ETNOSENTRISME

ETNOSENTRISME


·         PENGERTIAN ETNOSENTRISME
Etnosentrisme adalah penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri. Orang-orang etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri, khususnya bila berkaitan dengan Bahasa, perilaku, kebiasaan, dan agama Perbedaan dan pembagian etnis ini mendefinisikan kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa. Etnosentrisme mungkin tampak atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan alamiah dari psikologi manusia, etnosentrisme memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.

Adanya perbedaan budaya dari masing-masing daerah bahkan negara. Perbedaan cara pandang
dan pendapat terhadap budaya yang dimiliki atau diakui dapat menunjukan perilaku etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat dalam beberapa bahasa yaitu arti kata “Cina” dalam bahsa Cina sebetulnya bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo, Kiowa dan Inuit menyebut diri mereka sendiri sebagai “The people”.

Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.
Contoh adanya perilaku etnosentrisme, misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya untuk memakan daging kuda mentah. Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari berbagai kalangan. Ada yang berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah hal yang biadab dan tidak normal. Tetapi mungkin saja ada yang memiliki pandangan bahwa memakan daging kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding dengan meletakkan orang tua di panti jompo. Dari contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya yang lain.

Gejala etnosentrisme muncul dan menyebar di daerah-daerah di Indonesia dalam berbagai bentuk. Manifestasi masalah etnosentrisme dalam beraneka bentuk menunjukkan kepada kita bahwa masalah etnosentrisme begitu kompleks. Untuk mempermudah kita memetakan fenomena etnosentrisme tersebut, penulis mencoba mengelompokkan masalah-masalah tersebut dalam beberapa jenis masalah.

·         KARAKTERISTIK ETNOSENTRISME
Menurut Larry terdapat tiga tingkatan dalam etnosentrisme :
o   Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling tidak bagi Anda, budaya Anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alami dan kepercayaan Anda berasal dari budaya asli Anda
o   Negatif, Memandang dengan sebelah mata, seakan akan budaya anda yang paling benar dan budaya lain salah
o   Sangat negatif, bagi Anda tidak cukup hanya menganggap budaya Anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, Anda juga menganggap budaya Anda sebagai yang paling berkuasa dan Anda percaya bahwa nilai dan kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang lain

Etnosentrisme semuanya terletak pada identitas sosial yang mendasar: kami. Sesaat sesudah orang-orang menciptakan kategori yang disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang lain sebagai “bukan kami”. Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu menit dalam laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya (1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di Inggris. Tajfel menunjukkan kepada anak-anak lelaki ini berbagai potongan gambar, masing-masing memiliki sejumlah titik yang beraneka ragam dan meminta anak-anak ini untuk menebak beberapa jumlah semua titik dalam potongan gambar tersebut. Anak-anak ini dengan acak dikelompokkan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators” dan mereka kemudian diminta untuk mengerjakan tugas lainnya. Dalam tahap ini, mereka diberikan kesempatan menilai anak-anak lain yang diidentifikasikan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators”. Walaupun setiap anak bekerja sendiri dalam ruangnya masing-masing, setiap anak memberikan nilai yang lebih tinggi pada anak-anak yang dianggap mirip dengannya, entah itu seorang yang “overestimators” ataupun “underestimators”. Ketika anak-anak ini keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai, “Termasuk yang manakah dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak gembira atau cemooh dari anak-anak lainnya.

Identitas sosial kita-mereka diperkuat ketika kedua kelompok berkompetisi satu dengan yang lainnya. Bertahun-tahun yang lalu. Muzafer Sherif dan rekan-rekannya menggunakan sebuah situasi alamiah, yaitu lokasi perkemahan pramuka yang dikenal sebagai Robbers Cave, untuk menunjukkan pengaruh kompetisi pada perilaku kasar dan konflik antar kelompok (Sherif, 1958, Sherif dkk 1961). Sherif menempatkan secara acak anak-anak usia 11 dan 12 tahun ke dalam dua kelompok, kelompok Elang dan kelompok Ular. Untuk membangun perasaan sebagai sebuah kelompok, serta membentuk identitas dalam kelompok dan semangat tim, setiap kelompok di minta bekerja sama dalam kegiatan seperti membuat jembatan dari tali-temali dan membangun sebuah papan untuk menyelam. Sherif kemudian menempatkan kelompok Elang dan Ular dalam sebuah kompetisi untuk mendapatkan hadiah. Selama permainan bola, baseball, dan tug-of-war yang sengit, anak-anak ini kemudian menciptakan atmosfer kompetisi yang segera menyelimuti lapangan permainan. Mereka mulai masuk ke daerah lawan dan mengacak-acak tempat penympanan mereka. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat kelompok ular dan kelompok Elang menjadi orang-orang yang agresif terhadap kelompok lawan, seperti halnya dua geng yang berkelahi untuk mendapatkan suatu wilayah, atau dua bangsa yang bertarung untuk memperoleh dominasi. Agresivitas dan perilaku kasar ini berlanjut ketika mereka hanya duduk dan menonton film bersama.

Kemudian Sherif memutuskan untuk menghilangkan pertikaian yang dia ciptakan dan membuat perdamaian antara kedua kelompok. Dia dan para rekannya membuat sejumlah rangkaian situasi di mana kedua kelompok perlu bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan-menggabungkan seluruh sumber daya untuk dapat menonton film yang ingin mereka lihat, sebagai contohnya, atau dengan menarik sebuah truk milik staf hingga ke bukit tempat perkemahan. Kebijakan untuk saling bergantung dalam mencapai tujuan bersama sangat sukses dalam mengurangi “etnosentrisme”, tingkat kompetisi, dan perilaku kasar mereka; masing-masing anak kemudian menjadi teman dengan anak-anak yang semula adalah “musuh mereka”. Saling tergantungan memiliki dampak seruupa pada orang dewasa dan kelompoknya. Alasannya tampaknya karena kerja sama menyebabkan seseorang berpikir bahwa mereka sendiri merupakan anggota dari suatu kelompok besar dan bukan lagi dua kelompok yang saling bertentangan, “kami” dan “mereka”.
Dari bacaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik lain yang terdapat pada etnosentrisme (dalam wede carole, dkk. 2008) antara lain sebagai berikut:
o   Etnosentris terletak pada identitas sosial yang mendasar. Hal ini mengarah pada kata “kami”, setelah mengenal kata tersebut, para etnosentris mempresepsikan semua orang lain “bukan kami”
o   Solidaritas dalam kelompok dapat tercipta lebih cepat, etnosentris menyukai orang lain yang hampir sama dengan dirinya dan budayanya
o   Menciptakan “kerja sama” bagi orang yang berpandangan etnosentris dapat merubah makna kata “kami” dan “mereka”
o   Budaya yang mengadopsi perilaku/ sikap etnosentrisme dapat menciptakan permusuhan dengan cepat antara dua kelompok yang berbeda yaitu melalui adanya perebutan dalam hal tertentu (identitas sosial menjadi lebbih kuat).
·         TERJADINYA ETNOSENTRISME
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”

Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang

·         LANGKAH MENGATASI MASALAH ETNOSENTRISME
o   Memberikan Toleransi yang tinggi terhadap kebudayaan yang berbeda dengan  kebudayaan kita
o   Menghargai suku,agama,dan ras yang berbeda
o   Jika permasalahnnya karena miss communication bisa dengan mengadakan mediasi antar kepala suku atau kepala daerah 
o    Pemerintah harus lebih telaten dalam mengurusi masalah-masalah yang ada di sudut-sudut Negara, jangan hanya terpaku pada ibu kota saja
o   Pemerintah harus lebih peka dan adil dalam pembuatan peraturan-peraturan agar tidak ada yang merasa di anak tirikan dan merasa tidak di perdulikan oleh pemerintah.
o   Perbaikan pada manajemen konflik agar mampu mengurangi konflik yang terjadi antara kelompok minoritas dengan minoritas maupun antara kelompok minoritas dengan mayoritas. Misalnya di adakan manajemen konflik pada suku dayak dan suku Madura yang merupakan kelompok mayoritas, sehingga suku dayak tidak merasa di diskriminasikan.
o   Diadakannya pendidikan multikultural sebagai pengembangan pola positif masyarakat pada masyarakat sampit dan Madura
o   Mengenali dan mencintai budaya lain dengan pengenalan budaya seperti misalnya suku Madura di pertunjukan tari-tarian suku dayak agar kedua suku tersebut bisa memiliki simpati satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar